Vitamin C (Vit. C) adalah salah satu antioksidan yang terbentuk secara
natural di alam. Sebagian besar tumbuhan dan hewan dapat mensintesa vit. C di
dalam tubuhnya dengan bahan awal glukosa. Manusia dan beberapa hewan vertebrata
kekurangan enzim L-glucono-gamma lactone oxidase yang dibutuhkan untuk
mensintesa vit. C di dalam tubuh, sehingga harus ada asupan dari bahan-bahan
alam seperti buah-buahan, sayuran berdaun hijau, strawberry, pepaya, brokoli,
dll.
L-ascorbic acid (LAA) adalah bentuk aktif dari vit. C. Bentuk inilah yang
aktif secara biologi dan dapat digunakan untuk pengobatan. Penyerapan vit. C di
dalam usus dibatasi oleh mekanisme transport aktif sehingga hanya sedikit yang
dapat diserap oleh tubuh meskipun mengkonsumsi vit. C dosis tinggi. Selan itu,
ketersediaan vit. C di kulit juga tidak cukup jika dikonsumsi dengan cara
diminum saja. Dengan demikian perlu adanya penggunaan vit. C secara topikal
untuk tujuan perawatan kulit.
CARA KERJA VITAMIN C
Vit. C sebagai antioksidan
Vit. C, membentuk grup kompleks enzimatik dan non-enzimatik antioksidan
yang dapat melindungi kulit dari oksigen reaktif (Reactive Oxygen Species /
ROS). Saat kulit terpapar cahaya matahari, maka oksigen reaktif akan bertambah
jumlahnya. Dengan adanya vit. C di kulit, maka radikal bebas tersebut akan
dapat dikendalikan. Setelah mengendalikan radikal bebas, vit. C berubah menjadi
bentuk non-reaktif. Selanjutnya vit. C yang tidak reaktif inti dapat diubah
kembali menjadi bentuk yang reaktif dengan bantuan enzim dehydro ascorbic acid
reductase dengan adanya glutathione. Paparan sinar UV dapat menguangi jumlah
vit. C yang terdapat dalam kulit.
Vit. C dan photoprotection
Seperti yang sudah disebutkan di atas, saat kulit terpapar sinar matahari
maka radikal bebas akan bertambah jumlahnya di dalam kulit. Radikal bebas ini
sangat berpotensial untuk merusak sel kulit. Efek berbahaya dari radikal bebas
dapat terjadi jika ada perubahan susunan senyawa kimia pada sel-sel DNA,
membrane sel, dan protein sel termasuk kolagen.
Sinar UVA dan UVB dapat masuk ke dalam kulit saat kulit terpapar sinar
matahari. Vit. C sama-sama efektif terhadap keduanya. UVB biasanya hanya
memperngaruhi kulit bagian luar atau epidermis sedangkan UVA dapat menembus
kulit hingga 30-40x lebih dalam daripada UVB. UVA dapat mengubah dan merusak
kolagen, elastin, proteoglycans, dan struktur sel lainnya yang terdapat di
kulit. UVA juga menyebabkan penuaan pada kulit dan kemungkinan pembentukan
melanoma. Sedangkan UVB menyebabkan kulit terbakar sinar matahari, terjadinya
radikal bebas, perubahan epidermis, dan kanker kulit.
Tabir surya yang digunakan dengan benar akan menghalangi terjadinya kulit
kemerahan karena sinar UV dan menghalangi thymine
dimer mutations yang berperan dalam pembentukan ek kanker pada kulit.
Namun, tabir surya hanya akan menahan sebanyak 55% produksi radikal bebas
karena paparan sinar UV. Penuaan akibat paparan sinar matahari ini dapat
dicegah dengan menghalangi terjadinya kulit kemarahan, terjadinya pembentukan
sel-sel yang terbakar, dan meningkatkan perbakan kolagen.
Untuk mengoptimalkan perlindungan terhadap UV, sangatlah penting untuk
mengkombinasikan pemakaian tabir surya dengan antioksidan topikal. Yang perlu
diingat adalah, vit. C tidak melindungi kulit dengan menyerap sinar UV,
melainkan dengan menetralkan radikal bebas yang terbentuk karena paparan sinar
UV.
Meskipun vit. C sudah cukup baik memberikan perlindungan terhadap sinar
matahari, namun akan lebih baik lagi jika penggunaannnya dikombinasikan dengan
vit. E. Sifat vit. C yang larut dalam air dan vit. E yang larut dalam minyak
akan menjadi pasangan yang pas untuk melindungi kulit. Keduanya akan secara
sinergis mengurangi kerusakan kronis akibat sinar UV.
Vit. C dan sintesis kolagen
Vit. C sangat penting untuk sitesis kolagen. Vit. C mempengaruhi jumlah
sistesis kolagen sebagai tambahan stimulasi perubahan molekul kolagen secara
kualitatif. Cara lain vit. C membentuk kolagen adalah dengan menstimulasi
peroksidasi lemak yang akan memproduksi malondialdehyde, yang akan menstimulasi
pengeluaran kolagen.
Vit. C juga secara langsung mengaktivasi transkripsi dari sintesis kolagen
dan menstabilkan procollagen mRNA yang mengatur jalannya sintesis kolagen.
Studi klinik pernah dilakukan dengan hasil bahwa penggunaan vit. C secara
topikal dapat meningkatkan produksi kolagen pada kulit orang muda seperti
halnya pada kulit orang tua.
Vit. C sebagai agen pencerah kulit
Vit. C adalah zat yang dapat mengganggu pembentukan melanosit atau proses
melanogenesis. Vit. C akan berinteraksi dengan ion copper pada tyrosinase-active
site dan menghambat aksi enzin tirosinase, sehingga akan menurunkan produksi
melanosit. Namun demikian, vit. C merupakan zat yang tidak stabil sehingga akan
lebih baik jika digunakan dengan agen pencerah kulit yang lain.
FORMULASI TOPIKAL VITAMIN C
Vit. C tersedia dalam berbagai jenis sediaan seperti krim, serum, dll. Dari
sekian banyak sediaan, hanya serum yang mengandung vit. C aktif. Sediaan ini
tidak stabil dengan adanya paparan cahaya. Vit. C akan berubah menjadi
kekuningan atau kecoklatan akibat dari oksidasi vit. C menjadi Dehydro Ascorbic
Acid (DHAA). Stabilitas vit c dikendalikan dengan mempertahankan tingkat
keasaman produk di bawah 3,5. Pada tingkat keasaman ini vit. C akan kehilangan
muatan ion pada molekulnya dan akan dapat menembus lapisan terluar kulit
(stratum korneum) dengan baik.
KESIMPULAN :
1. Asupan vit. C dari buah dan sayur akan membantu tubuh melawan panuaan
akibat paparan sinar matahari.
2. Tabir surya hanya dapat menghindari 55% paparan sinar UV di kulit kita.
Selalu gunakan pakaian yang tertutup untuk memaksimalkan perlindungan terhadap
kulit.
3. Sediaan yang paling baik untuk kulit agar vit. C dapat masuk ke dalam kulit
adalah sediaan serum dengan pH 3,5.
4. Simpan produk yang mengandung vit. C di ruangan yang tidak terpapar cahaya
matahari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar